Skip to main content

Lagi Kangen Berlayar

Pernah menyusuri lautan dari Jampue sampai Bonging Ponging dengan sampan yg saat duduk, tangan kanan kiri bisa lgsg menyentuh air laut.

Pernah nyeberang dari Lombok kr Gili Trawangan pake perahu penumpang, dalam kondisi ombak lumayan tinggi. Dan perahu melaju diantara ombak itu.

Pernah nyeberang ke Pulau Air dari Ancol pake Speed Boat dan balik lagi ke Ancol dengan Boat yang sama.

Pernah nyeberang dari Sumur ke Pulau Umang pake Jukung, Perahu nelayan pake layar yang cuma muat 2 orang penumpang.

Pernah berlayar pake Pesiar Kecil dari Nusa Dua ke Nusa Lembongan dan balik lagi ke Nusa Dua sore harinya.

Pernah beberapa kali pake ferry nyeberang Merak ke Bakauheni atau sebaliknya.

Pernah berlayar dari lepas maghrib sampai ashar esok harinya dengan kapal penangkap ikan tuna di Ambon. Dari Pulau Seram ke lepas pantai Ambon.

Pernah beberapa kali naik kapal laut yang besar. Kapal penumpang milik Pelni dari Makassar ke Jakarta atau sebaliknya dan transit di Surabaya.

Pernah pake Speed Boat dari Batam ke Singapura dan dari Johor ke Batam.

Pernah Naik kapal penumpang yang lebih kecil dari kapal Pelni dari Ternate ke sebuah pulau, lupa namanya, dan balik lagi ke Ternate keesokan harinya.

Pernah pake Speed Boat kecil dari Pulau Morotai ke Pulau terluar Indonesia di Maluku Utara, lupa juga nama pulaunya.

Pernah naik ferry berlayar dari Ambon ke Pulau Seram bolak balik jeda semalam.

Pernah nyeberang dari Losari ke Pulau Bidadari di Makassar pake perahu mesin, yang biasa disebut katinting disana.

Pernah berlayar pake kapal penumpang cepat dari Pulau Bangka ke Pulau Belitung.

Beberapa kali menikmati lautan dengan main jetski di beberapa pantai. Termasuk main banana boat.

Sejauh ini itu yang keingat...

Tiba-tiba lagi kangen berlayar, apapun bentuk pelayaran itu. Ada masa-masa yang keren, saat deburan ombak yang menabrak kapal ketika malam hari, terdengar jelas, besamaan saat kita menatap langit yang penuh bintang dan wajah tersapu hembusan angin laut.

Laut selalu menyenangkan untuk diarungi....

Daenkmar

Comments

Popular posts from this blog

Antara Indonesian Idol dan ST 12

Kalo tidak salah, tahun 2008 ini merupakan tahun kelima pelaksanaan Indonesian Idol, yang ditayangkan di RCTI. Namun meski sudah lima kali, namun baru kali kelima ini saya tertarik untuk menyaksikannya. Alasannya mungkin karena ST 12, tapi mungkin juga bukan.

Tahun lalu, saya pernah mendengar dari Hp ponakan ada sebuah lagu, yang mirip dengan gaya lagu Peterpan, saya bahkan mengcopy lagu tersebut, yang ternyata milik group band yang juga berasal dari Bandung, ST 12. Lalu beberapa bulan belakangan, di program Selamat Pagi Trans7 yang saya produseri saat ini, lagu tersebut menjadi momok bagi Bima, seorang anggota tim kreative saya.

Saya dan beberapa teman, seperti Thomas, VJ tim Selamat Pagi, sering menggoda Bima, dengan memutar lagu tersebut, di Komputer saya. Belum lagi Susan, PA Selamat Pagi yang juga menggoda Bima dengan memutar lagu ST 12 menggunakan HP. Bahkan maret lalu, saat kami taping di Makassar, saya dan Susan tak hentinya menggoda Bima dengan lagu ST 12.

Awal april ini, perhel…

Haruskah Ku Melawan Dunia?

Bagaikan lirik sebuah lagu...
Kita adalah hati yang tertindas. Kitalah langkah yang berhenti berjalan. Kitalah mimpi yang tak terwujudkan....

Adalah kisah yang pernah terjadi diantara kita. Berawal dari belasan tahun lalu, kemudian redup kemudian mucul kembali, kemudian redup, muncul lagi, dan terakhir... terang tidak, redup tidak, mati pun tidak. Walau bisa jadi ini hanya terjadi di duniaku, tidak pada duniamu.

Apa yang aku telah lakukan belakangan, bagimu telah cukup bahkan lebih untuk menebus dosa-dosaku padamu dimasa lalu. Namun tetap saja itu tidak akan cukup mengembalikan semua pada posisi dimana dulu kita adalah yang paling segalanya. Sempat memang ada harap. Harap yang kusimpan cukup lama, namun tak pernah juga aku tawarkan, karena aku tau sekarang semua telah berubah dan berbeda.

Apakah layak orang yang pernah pergi, justru menunggu kembali? Sementara yang seharusnya dia tunggu tak lagi berjalan lurus mengarah padanya. Ia yang sangat ingin ditunggu olehku adalah hal yang tak …

Shalawat Tarhim Pengingat Masa Kecil

Tau Shalawat Tarhim?

Shalawat yang biasanya diperdengarkan sebelum adzan. Di Bandung ada beberapa masjid yang saya pernah dengar masih memperdengarkan shalawat ini, hingga sekarang.

Saat berkunjung ke kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Padang, Medan, Palembang di Sumatera. Lalu Pontianak, Balikpapan di Kalimantan, Jogja dan kota-kota lainnya di Jawa, kota-kota lain di Indonesia Timur seperti Ternate, dan pastinya di kota-kota yang ada di Sulawasi Selatan, tak terkecuali Pinrang, masih banyak yang memutar shalawat ini sebelum memasuki waktu shalat.

Sekitar 10 kilometer arah utara kota Pinrang, adalah Leppangeng, sebuah desa yang tenang dan ramah, desa dimana saya berasal. Di desa inilah dulu semasa kecil kuping saya akrab dengan shalawat ini. Dari sebuah mushollah yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah. Mushollah Nurul Yaqin. Saat ini telah berubah menjadi masjid, setelah diperluas dan ditingkat menjadi dua lantai.

Masa itu, sepulang sekolah setelah dhuhur dan makan siang, ka…

Its Me... Saat Liburan ke China Januari 2017

Its Me... Pada Hari Raya Idul Fitri 2017