Skip to main content

Teruntuk Kamu Yang Mengecewakanku

Mengenalmu awal Desember 2014 lalu merupakan salah satu hal terindah dalam hidup saya (awalnya). Namun ternyata saya salah.

Jum'at 1 Mei 2015 sekitar 4 bulan kemudian, saya menemui kamu, ibumu, nenekmu dan beberapa keluargamu lainnya dan menyatakan niat saya untuk meminangmu. Atas nama Allah, bismillah atas niat ingin ibadah dan menjalankan sunnah Nabi Muhammad saya menyampaikan niat saya waktu itu untuk melamar kamu. Ibu dan nenekmu saat itu menyerahkan sepenuhnya kepada kamu.

Maka saya nyatakan ke kamu bahwa silahkan dipikir baik-baik karena ini untuk sekali seumur hidup. Dan karena sudah tersebut tanggal 22 Agustus 2015 saya akan membawa keluarga saya untuk menyampaikan pinangan secara resmi, saya pun mempersilahkan kamu untuk tidak buru-buru menjawab pinangan itu. Saya bahkan menegaskan, jika masa 22 Agustus itu tiba dan kamu menjawab tidak sekali pun, saya akan ikhlas pulang bersama keluarga saya. Namun berselang sekitar 2 minggu kemudian, Ahad 17 Mei 2015, di depan ibu dan nenekmu, kamu atas nama Allah dengan Bismillah menyatakan menerima pinangan saya. Dan rencana 22 Agustus adalah semacam hanya seremoni saja.

Bagi saya, kita sejak 17 Mei itu telah terikat tali pinangan. Walau kamu dan keluarga tidak sependapat, dan menganggap yang resmi dan sesuai dengan Hadist adalah yang 22 Agustus saat kedua keluarga bertemu. Tapi itu tidak penting lagi saat ini.

Dihari yang sama 17 Mei itu pun kita telah membahas tata cara khitbah nanti. Lengkap dengan jumlah keluarga yang akan datang, apakah rumah ibumu muat, apakah perlu pasang tenda dan menutup jalan di depan rumah.

Kemudian, kita pun sudah merencanakan semua. Cek gedung. Sampai sedikit mendesak ke pihak hotel agar ballroomnya segera selesai, agar dapat digunakan pada Sabtu 12 Desember 2015 untuk Akad dan Resepsi.


Kamu telah bertemu bagian rias dan penyewaan baju, dan bahkan mereka telah memberikan berapa budget paket rias dan bajunya. Kamu pun telah mengurus undangan sesuai dengan desain yang kita sepakati. Saya sudah survey souvenir ke Jatinegara. Saya pun ditemani kamu telah beli kain, kemudian diukur dan memesan ke tukang jahit untuk dibuat kemeja, guna saya kenakan saat lamaran/khitbah 22 Agustus nanti.

Rencana kunjungan balasan oleh Keluargamu pun telah dibahas setelah acara 22 Agustus tersebut.

Dan semua berjalan indah dan normal menuju hari bahagia itu. Hingga akhirnya tiba waktu dimana seorang laki-laki muncul. Laki-laki yang ternyata pernah ada di kehidupan kamu sebelum bertemu saya. Sayangnya kamu tidak pernah menceritakan sosok ini. Padahal kita pada masa-masa saling mengenal satu sama lain, sempat menceritakan "mantan-mantan" kita.

Selasa 16 Juni kamu menemui dia, tanpa saya tau, dan kamu lalu berubah total. Seolah-olah saya ini hanya laki-laki baru yang baru muncul, seperti awal Desember 2014 lalu. Dan saya baru dapat jawaban atas semua itu Kamis malam 18 Juni, malam kedua Ramadhan 1436H. Poinnya adalah dia adalah laki-laki yang menurutmu, yang kamu cinta selama ini, walau dia tidak pernah tegas kepada kamu. Lalu dia menghilang tanpa memberimu kepastian.


Sekarang dia muncul kembali setelah menghilang, setelah 2 bulan kita merencanakan dan mengurus persiapan untuk lamaran dan pernikahan kita. Kamu bahkan bilang, mau gimana lagi perasaan gak bisa dibohongi. Perasaan cinta dan sayang kamu jauh lebih besar ke laki-laki itu daripada saya. kamu mengaku bimbang dan ragu karena dia muncul. Kamupun minta agar rencana lamaran 22 Agustus diundur menjadi September atau Oktober.
Bagi saya waktu itu, harusnya kamu bisa tegas kepada laki-laki itu karena posisi kita. Namun kamu bersikap lain. kamu memposisikan laki-laki itu sama dengan saya. Atau tepatnya saya ditarik mundur untuk memulai dari awal dengan laki-laki itu untuk menjadi bahan pertimbangan, kamu akan memilih siapa. Tentu saya bertanya, siapa dia yang bisa mengacaukan semua ini. Dan bisa membuat kamu menyurutkan niatmu ke saya.

Pertengahan Ramadhan kamu lalu menyatakan saat ini kamu sudah netral terhadap dua-duanya. Jujur saya kaget dan bingung, bagaiman bisa saya yang sudah menjalani semua ini dengan kamu diposisikan sama dengan dia yang "baru" muncul lagi? Tapi saya terima karena sejak awal Ramadhan saya sudah bilang, silahkan kamu pikirkan baik-baik dan saya beri kepastian setelah Ramadhan usai, alias saat Lebaran. Walau hati kecil saya berontak untuk mengakhiri saja.

Betapa tidak, wanita yang telah menyatakan siap berkomitmen dengan saya, tiba- tiba beralih perhatiannya ke laki-laki lain. Apakah ini tidak akan terjadi lagi dikemudian hari jika akhirnya kamu memilih saya? Bagaimana jika kita telah menikah lalu laki-laki ini muncul? Siapa bisa menjamin kamu tidak akan tergoda untuk berpaling dari saya?

Saat awal kenal, kamu dengan tegas menyatakan mencari laki-laki beriman yang bisa menjadi imammu selamanya. Menjadikan agama sebagai dasar pencarianmu. Menjadikan agama sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Namun saat kita ketemu di Bandung, Ramadhan hari ke-7, Rabu 24 Juni 2015, kamu mengatakan agama itu gak jaminan. Siapa yang bisa jamin orang yang agamanya baik gak akan selingkuh. Yang agamanya baik banyak yang istrinya dua. Jujur saya kaget mendengar kamu berbicara seperti itu. Saya hanya jawab kalo yang beragama aja begitu menurut kamu, gimana yang gak beragama. Sepertinya kamu masih sangat cetek ilmu agamanya, walau selalu gembar-gembor agama dalam tiap langkah dan omonganmu.

Sekarang telah Syawal. Ramadhan sudah habis. Bagi saya sudah cukup waktu bagi kamu berpikir. Walau ini bak menggarami air laut. Sudah jelas-jelas kamu akan memilih laki-laki itu, karena kalo kamu memilih saya, harusnya kamu bisa tegas sejak laki-laki ini muncul. Namun ketika saya menanyakan, jawaban kamu masih menggantung tak jelas. Maaf saya merasa ini adalah wujud aslinya kamu. Tak punya pendirian.

Maka dengan berat hati saya menyatakan mundur. Dengan segala rasa cinta dan sayang saya, saya ikhlaskan kamu bahagia dengan orang lain. Insya Allah dengan kemunduran saya ini, kamu tak harus lagi bingung memilih, karena pilihan tinggal satu. Pun kalo kamu tidak memilih laki-laki itu, bukan urusana saya lagi. Dan jika memang kamu tidak dengannya pada akhirnya, itu bukti kebodohan kamu yang hakiki.

Saya memang pernah berjanji tidak akan mengakhiri ini, mundur dari pernikahan ini. Saya pernah berkata ke kakak saya, dan juga ke Mamamu, bahwa jika pernikahan ini batal, saya pastikan itu tidak akan terjadi karena saya. Dan saya rasa disini jelas, ini semua terjadi bukan karena saya.

Jadi, terima kasih telah pernah mengisi hari-hari saya sekitar 2 bulan dengan keindahan, keceriaan dan kebahagiaan, walau akhirnya kamu tutup dengan kekecewaan bagi saya dan keluarga besar saya.

Semoga pilihanmu tepat. Saya doakan kamu bahagia. Semoga Allah selalu melindungi kamu.

Salam

Comments

Popular posts from this blog

Antara Indonesian Idol dan ST 12

Kalo tidak salah, tahun 2008 ini merupakan tahun kelima pelaksanaan Indonesian Idol, yang ditayangkan di RCTI. Namun meski sudah lima kali, namun baru kali kelima ini saya tertarik untuk menyaksikannya. Alasannya mungkin karena ST 12, tapi mungkin juga bukan.

Tahun lalu, saya pernah mendengar dari Hp ponakan ada sebuah lagu, yang mirip dengan gaya lagu Peterpan, saya bahkan mengcopy lagu tersebut, yang ternyata milik group band yang juga berasal dari Bandung, ST 12. Lalu beberapa bulan belakangan, di program Selamat Pagi Trans7 yang saya produseri saat ini, lagu tersebut menjadi momok bagi Bima, seorang anggota tim kreative saya.

Saya dan beberapa teman, seperti Thomas, VJ tim Selamat Pagi, sering menggoda Bima, dengan memutar lagu tersebut, di Komputer saya. Belum lagi Susan, PA Selamat Pagi yang juga menggoda Bima dengan memutar lagu ST 12 menggunakan HP. Bahkan maret lalu, saat kami taping di Makassar, saya dan Susan tak hentinya menggoda Bima dengan lagu ST 12.

Awal april ini, perhel…

Haruskah Ku Melawan Dunia?

Bagaikan lirik sebuah lagu...
Kita adalah hati yang tertindas. Kitalah langkah yang berhenti berjalan. Kitalah mimpi yang tak terwujudkan....

Adalah kisah yang pernah terjadi diantara kita. Berawal dari belasan tahun lalu, kemudian redup kemudian mucul kembali, kemudian redup, muncul lagi, dan terakhir... terang tidak, redup tidak, mati pun tidak. Walau bisa jadi ini hanya terjadi di duniaku, tidak pada duniamu.

Apa yang aku telah lakukan belakangan, bagimu telah cukup bahkan lebih untuk menebus dosa-dosaku padamu dimasa lalu. Namun tetap saja itu tidak akan cukup mengembalikan semua pada posisi dimana dulu kita adalah yang paling segalanya. Sempat memang ada harap. Harap yang kusimpan cukup lama, namun tak pernah juga aku tawarkan, karena aku tau sekarang semua telah berubah dan berbeda.

Apakah layak orang yang pernah pergi, justru menunggu kembali? Sementara yang seharusnya dia tunggu tak lagi berjalan lurus mengarah padanya. Ia yang sangat ingin ditunggu olehku adalah hal yang tak …

Shalawat Tarhim Pengingat Masa Kecil

Tau Shalawat Tarhim?

Shalawat yang biasanya diperdengarkan sebelum adzan. Di Bandung ada beberapa masjid yang saya pernah dengar masih memperdengarkan shalawat ini, hingga sekarang.

Saat berkunjung ke kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Padang, Medan, Palembang di Sumatera. Lalu Pontianak, Balikpapan di Kalimantan, Jogja dan kota-kota lainnya di Jawa, kota-kota lain di Indonesia Timur seperti Ternate, dan pastinya di kota-kota yang ada di Sulawasi Selatan, tak terkecuali Pinrang, masih banyak yang memutar shalawat ini sebelum memasuki waktu shalat.

Sekitar 10 kilometer arah utara kota Pinrang, adalah Leppangeng, sebuah desa yang tenang dan ramah, desa dimana saya berasal. Di desa inilah dulu semasa kecil kuping saya akrab dengan shalawat ini. Dari sebuah mushollah yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah. Mushollah Nurul Yaqin. Saat ini telah berubah menjadi masjid, setelah diperluas dan ditingkat menjadi dua lantai.

Masa itu, sepulang sekolah setelah dhuhur dan makan siang, ka…

Its Me... Saat Liburan ke China Januari 2017

Its Me... Pada Hari Raya Idul Fitri 2017