Dinding Dinding Kecemasan

Tak mudah untuk tiba pada ini. Lama kuhabiskan waktu untuk memikirikannya. 

Awalnya kau tak ada. Lalu kau muncul karena rasa penasaranmu. Penasaranmu yang memuncak membuatku mulai merasakannya. Muncul tenggelam. Antara ada dan tiada. Lama berlangsung, cukup lama bahkan.

Dan ketika kuputuskan tuk menyapamu, aku justru ragu. Kuberusaha melawan keraguan itu. Kumenabrak dinding-dinding yang muncul entah dari mana. Bahkan kudatangi wilayah yang mungkin terlalu cepat untuk dikunjungi. Entah kenapa justru keraguan semakin memuncak.

Aku tak ingin bermaksud tidak sopan. Namun ada yang salah dengan ini. Dan maaf, kesalahan itu ada padamu. Mengapa kau mencoba sesuatu yang baru ketika sesuatu yang lainnya belum terselesaikan. Ada ketidak fokusan disana. Keterbukaan amatlah jauh.

Mengapa tak mau mengubah hal-hal yang justru membuat kesenangan menjauhimu? Memamerkan yang ada sekarang, yang entah bagian mana yang memang layak dipamerkan, bukanlah jalan keluar. Perjalanan hidup tak semudah itu. Tak pasti dan tak mudah mengikuti jalan yang kita inginkan.

Penampakanmu yang semu, walau kadang penuh senyum manis, tak mampu membuat arti apa-apa. Jujur aku kecewa dengan apa yang kau lakukan pada masa kali kedua itu. Keindahan hari yang manis bak ditutup dengan pahitnya empedu. Keegoisan memang tak akan pernah berujung pada kesenangan atau kebahagiaan.

Ada rasa sayang disini. Ada rasa rindu disini. Bahkan bunga cinta masih bermekaran disini. Namun entah mengapa semua itu tetap disini dan teramat sulit menyampaikannya padamu. Bahkan angin pun tak mampu menghembuskannya padamu.

Kamu terlalu dirimu. Terbukalah. Jangan tunduk dan patuh pada egomu. Hidup tak kan indah jika hanya ingin kau nikmati sendiri. Bahkan. Tuhan pun telah berfirman bahwa Dia menciptakan umatnya untuk saling berpasang-pasangan.

Salam
@daenkmar

Comments

jullie rosyid said…
Hiks... Why always an ego??????