Skip to main content

DUKA AIR ASIA QZ8501

Sejak senin dinihari pas balik dari kantor, rebah menjelang tidur sambil nonton tv yang nyiarin hilangnya Air Asia, sampai subuh tadi, saya merasa ada yang aneh. Susah tidur, kebayang terus sama musibah itu. Walau di dalamnya tidak ada kerabat. Memang musibah seperti ini menggugah rasa, pikiran dan perasaan walau tak ada keluarga kita disana.

Sebagai manusia, itu sangat wajar. Bahkan kita bisa meneteskan air mata saat melihat beritanya. Bagi saya yang kerja di media, rasa itu sidikit menurun jika sedang dikantor mengurus tim dan live program untuk tayangan seputar Air Asia. Namun jika sudah dirumah, di depan TV, rasa itu meningkat tajam, dan merasuki pikiran. Betapa sedihnya melihat musibah seperti ini.

Saya merasa ada sesuatu dengan saya dengan Air Asia ini. Sebelum kejadian Air Asia QZ8501 ini, juga sudah beberapa kali ada musibah pesawat sejak saya kerja di Trans7 dan Trans Tv, dan juga terlibat dalam tim yang menyiapkan tayangan seputar musibah itu, tapi kali ini kok beda banget rasanya. Sempat mikir apa karena Air Asia adalah Favorite saya setelah GA ya. Atau karena Saya terakhir terbang awal November lalu dengan Air Asia saat pulang ke Jakarta dari Bali?

Sejak senin dinihari hingga tengah malam tadi, saya masih memiliki perasaan aneh. Dan subuh tadi saya dapat jawabannya, dan diperkuat pagi ini. Saat melihat Path subuh tadi, banyak yang posting foto kru Air Asia. Dan saya mengenali wajah mereka. Memang 4 hari ini saya tidak begitu memperhatikan detail nama-nama awak pesawat, yang paling saya ingat hanya Pilot, Capt Iriyanto. 


Save from Path

Saat saya perhatikan satu-satu foto mereka, saya kenali wajah mereka. 2 tahun lalu saya terbang menggunakan Air Asia dari Ho Chi Min dengan awak kabin mereka. Pagi ini saya konfirmasi ke Bro Wathan di Fres Tour, tenyata benar mereka awak kabin kami saat itu.

Waktu itu saya baru saja liburan dengan rombongan Fres Tour. Karena kursi kami di belakang, jadi dekat dengan posisi awak kabin ini di belakang. Jadi kami sempat lama berbincang-bincang dengan mereka. Bahkan karena Bro Wathan, pemilik Fres Tour baru saja ulang tahun, saya sempat bilang ke Oscar bisa dapet surprise gak tuh ketua rombongan kami? Dia senyum-senyum.

Dan saat kami mendarat di Soekarno Hatta, Oscar yang berbicara (seperti biasa dalam penerbangan) memberitahukan kita sudah tiba, selamat datang... Jangan berdiri sampai pesawat benar-benar berhenti, jangan nyalakan hp dulu, dlll.... Mengakhiri dengan ucapan selamat ulang tahun plus menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Bro Wathan. Oh ternyata itu kejutannya.

Saat masih diudara, saya sempat menanyakan souvenir gantungan kunci yang di jual, tapi ternyata habis. Dan saat kami akan turun, saya bilang ke Oscar dan Wanti, di darat ada gak sih itu dijual? Dan ternyata gak ada. Tanpa saya sangka, Wanti mengambil gantungan kunci dari tasnya, dan memberikan ke saya. "Ini mas bawa aja buat kenang-kenangan dan biar selalu inget untuk naik Air Asia" Saya sempat nolak. "Bawa aja mas, kan saya masih akan terbang terus sama Air Asia, jadi nanti saya mudah kalo mau beli lagi". Jadilah saya terima gantungan kunci itu. Dan sejak saat itu nempel di tas saya sampai saat ini.


Kenang-kenangan dari Wanti
Ini adalah jawaban kegundahan saya. Mereka memang bukan keluarga, tapi ternyata mereka adalah teman penerbangan saya yang sangat menyenangkan. Mereka baik, ceria, dan bersemangat. Langsung terbayang senda gurau kami waktu itu dengan mereka.

Dengan Pilot memang tidak bertemu, apalagi kami turun lewat belakang. Biasanya jika turun lewat depan, pilot keluar kokpit dan menyapa penumpang yang akan turun. Tapi malam itu kami turun dari belakang. Dan seingat saya di belakang ada Oscar, Wanti dan Khairunnisa. Wismoyo di depan.

Penerbangan malam itu dari Ho Chi Min salah satu penerbangan paling menyenangkan. Mereka para awak kabin ini mudah akrab dengan penumpang. Termasuk dengan rombongan kami dari fres. Oscar dan Wismoyo bahkan agak lama senda gurau dengan kami, sampai sempat ledek-ledekan. Dan saya lupa Wanti atau Khairunnisa bahkan sempat ngobrol dengan Putri, anak Bro Wathan.

Sampai tulisan ini saya buat Kabasarnas bilang sudah ada 7 jenazah yang ditemukan di laut, dan salah satunya ada yang berseragam pramugari, saya tetap doakan ada keajaiban bagi para awak kabin, pilot serta co pilot dan seluruh penumpang. Semoga aja ada yang selamat. Amin...

Kejadian ini tak akan membuat saya kapok bepergian dengan Air Asia. Semoga mereka yang menjadi korban ini, diterima dan tenang di Sisi Allah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin...

Salam Duka Cita dari Saya
@daenkmar

Air Asia
Now Every One Can Fly

Comments

Popular posts from this blog

Antara Indonesian Idol dan ST 12

Kalo tidak salah, tahun 2008 ini merupakan tahun kelima pelaksanaan Indonesian Idol, yang ditayangkan di RCTI. Namun meski sudah lima kali, namun baru kali kelima ini saya tertarik untuk menyaksikannya. Alasannya mungkin karena ST 12, tapi mungkin juga bukan.

Tahun lalu, saya pernah mendengar dari Hp ponakan ada sebuah lagu, yang mirip dengan gaya lagu Peterpan, saya bahkan mengcopy lagu tersebut, yang ternyata milik group band yang juga berasal dari Bandung, ST 12. Lalu beberapa bulan belakangan, di program Selamat Pagi Trans7 yang saya produseri saat ini, lagu tersebut menjadi momok bagi Bima, seorang anggota tim kreative saya.

Saya dan beberapa teman, seperti Thomas, VJ tim Selamat Pagi, sering menggoda Bima, dengan memutar lagu tersebut, di Komputer saya. Belum lagi Susan, PA Selamat Pagi yang juga menggoda Bima dengan memutar lagu ST 12 menggunakan HP. Bahkan maret lalu, saat kami taping di Makassar, saya dan Susan tak hentinya menggoda Bima dengan lagu ST 12.

Awal april ini, perhel…

Haruskah Ku Melawan Dunia?

Bagaikan lirik sebuah lagu...
Kita adalah hati yang tertindas. Kitalah langkah yang berhenti berjalan. Kitalah mimpi yang tak terwujudkan....

Adalah kisah yang pernah terjadi diantara kita. Berawal dari belasan tahun lalu, kemudian redup kemudian mucul kembali, kemudian redup, muncul lagi, dan terakhir... terang tidak, redup tidak, mati pun tidak. Walau bisa jadi ini hanya terjadi di duniaku, tidak pada duniamu.

Apa yang aku telah lakukan belakangan, bagimu telah cukup bahkan lebih untuk menebus dosa-dosaku padamu dimasa lalu. Namun tetap saja itu tidak akan cukup mengembalikan semua pada posisi dimana dulu kita adalah yang paling segalanya. Sempat memang ada harap. Harap yang kusimpan cukup lama, namun tak pernah juga aku tawarkan, karena aku tau sekarang semua telah berubah dan berbeda.

Apakah layak orang yang pernah pergi, justru menunggu kembali? Sementara yang seharusnya dia tunggu tak lagi berjalan lurus mengarah padanya. Ia yang sangat ingin ditunggu olehku adalah hal yang tak …

Shalawat Tarhim Pengingat Masa Kecil

Tau Shalawat Tarhim?

Shalawat yang biasanya diperdengarkan sebelum adzan. Di Bandung ada beberapa masjid yang saya pernah dengar masih memperdengarkan shalawat ini, hingga sekarang.

Saat berkunjung ke kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Padang, Medan, Palembang di Sumatera. Lalu Pontianak, Balikpapan di Kalimantan, Jogja dan kota-kota lainnya di Jawa, kota-kota lain di Indonesia Timur seperti Ternate, dan pastinya di kota-kota yang ada di Sulawasi Selatan, tak terkecuali Pinrang, masih banyak yang memutar shalawat ini sebelum memasuki waktu shalat.

Sekitar 10 kilometer arah utara kota Pinrang, adalah Leppangeng, sebuah desa yang tenang dan ramah, desa dimana saya berasal. Di desa inilah dulu semasa kecil kuping saya akrab dengan shalawat ini. Dari sebuah mushollah yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah. Mushollah Nurul Yaqin. Saat ini telah berubah menjadi masjid, setelah diperluas dan ditingkat menjadi dua lantai.

Masa itu, sepulang sekolah setelah dhuhur dan makan siang, ka…

Its Me... Saat Liburan ke China Januari 2017

Its Me... Pada Hari Raya Idul Fitri 2017