Melati di Tapal Batas

Aku memiliki prinsip dan keteguhan hati yang kuat. Telah aku pegang sejak lama. Memang dulu tak sekuat sekarang sehingga prinsip itu runtuh, bagai tanggul diterjang air bah. Kesadaranku akan apa yang terjadi kemudian, membuatku kini lebih memperkokoh kekuatan dinding prinsip itu. Namun entah kekuatan apa itu, yang belakangan ini memcoba mengusik kekokohanku.

Pesona. Adakah karena itu? Kesepiankah? Atau justru keadaan sekeliling yang perlahan membentuk koloni guna menyiksa dengan selimut kebahagiaan? Ataukah sebuah penyelamatan? Penyelamatan seorang makhluk terkait dengan aqidah dan tuntunan hidup? Entahlah yang mana yang akan menyingkap tabir gelap sebuah perjalanan dan perjuangan dalam menggenggam prinsip.

Aku hanya manusia biasa memang, jadi tak heran jika goncangan sekecil apapun mampu menggoyahkan bahkan merobohkanku. Makin ku katakan tidak, semakin hati bergejolak dan berkata iya. Namun entah kali keberapa kukatakan ini, bahwa otak itu ada diatas hati. Otak ada dikepala dan hati ada di badan, jadi mari dahulukan pikiran dan logika daripada perasaan.

Bersambung...

Comments

Ceria Oktora said…
puk..puk..puk..
kalau boleh mengutip lagunya Agnes :
"Cinta ini...kadang-kadang tak ada logika..."

Ga usah diperdebatkan antara hati dan logika... :D