Skip to main content

CULASNYA NEWS SCTV!!!!

Senang rasanya bisa mendatangkan Sumanto ke Jakarta untuk bisa tayang live di Kupas Tuntas TV 7, pada senin malam 30 Oktober kemarin. Meski hanya tayang 30 menit, namun perjuangan untuk mendatangkannya ke Jakarta, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Awalnya, pak H Supono Mustadjab, yang kini menampung Sumanto di Panti rehabilitasi mental dan narkoba miliknya sempat ragu bisa membawa Sumanto ke Jakarta, apalagi dengan menggunakan pesawat terbang. Karena kondisi Sumanto yang masih labil. Bahkan, Sabtu, 28 Oktober lalu saat baru tiba di panti, di desa bungkanel, karang anyar purbalingga, beberapa orang keluarga pak Pono, bahkan menolak Sumanto dibawa menggunakan pesawat terbang. Namun kami berhasil meyakinkan mereka, apalagi kami sudah membawa tiket untuk pak Pono dan Sumanto ke Jakarta.

Tapi masih ada syarat lain dari pak Pono, Sumanto harus kami pamitkan ke kampungnya. Minggu, 29 Oktober, kami mendatangi camat dan kepala desa Lumutan, untuk meminta ijin membawa Sumanto ke Jakarta. Karena Sumanto masih labil, kedua orang ini juga sempat mempertanyakan niatan kami. Namun saya meyakinkan mereka dengan cara menjadikan kami berdua sebagai jaminan, jika ada sesuatu yang terjadi selama di Jakarta.

Dan sebagai pengundang, sudah tentu Sumanto menjadi tanggung jawab kami, sejak ia meninggalkan panti menuju TV7 Jakarta, hingga tiba kembali dipanti.

Senin pagi, 30 Oktober, pukul 07.30 kami meninggalkan panti menuju semarang. Turut menyertai Sumanto H Supono, dan seorang tim medis, mas Ahmad. Kurang dari 6 jam perjalanan kami tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang.

Disinilah kami mulai mengatur siasat untuk menaikkan Sumanto ke pesawat. Saya kemudian kordinasi dengan pihak bandara, dan juga dengan pihak Lion Air. Hasilnya, kami berlima diberikan tempat duduk dibaris paling belakang. Sejak tiba dibandara, hanya saya dan juru kamera Ferdy yang turun dari mobil, Sumanto dan rombongan tetap menunggu boarding di dalam mobil.

Saat boarding, pihak lion air menaikkan semua penumpang terlebih dahulu, baru kemudian kami menyusul, dengan dikawal petugas dari bandara, hingga tiba di dalam pesawat melalui tangga belakang.

Saya amat berterima kasih pada petugas bandara Ahmad Yani Semarang, dan pihak Lion Air yang banyak membantu.

Tiba di cengkareng, entah bagaimana kami telah ditunggu oleh banyak infotainment, di pintu keluar terminal 1A.

Melalui berbagai rintangan, akhirnya kami tiba di TV7, dan berhasil live Kupas Tuntas pukul 23.00. Namun perjuangan belum usai, Malam hari saat akan istirahat di Hotel Santika, Saya kembali melakukan semacam perjanjian dan kesepakatan dengan pihak hotel, agar kehadiran Sumanto tidak mengganggu tamu lain. Dan saya menjaminkan diri jika terjadi apa-apa. Bahkan saya dan manager hotel telah mengatur bagaiman jalur keluar masuk hotel bagi sumanto.

Sore tadi, setelah taping dengan good morning Trans Tv, Sumanto dan rombongan kami antar ke bandara, Soekarno Hatta, untuk kembali ke Purbalingga, via Jogja. Kali ini menggunkan maskapai Adam Air. Tiba di bandara, kembali saya berkordinasi dengan pihak adam air dan bandara, mengenai kronologi membawa sumanto naik ke pesawat. Sempat keluar beberapa opsi, mulai dari menaikkan lebih dulu sebelum penumpang lain boarding, hingga rencana menggunakan mobil langsung ke kaki tangga pesawat. Namun akhirnya kami menggunakan cara di semarang kemarin. (udah mirip pejabat aja yah?)

Saat semua penumpang adam air telah boarding, barulah kami merapat setelah menunggu didalam mobil di pelataran parkir, sekitar 1,5 jam. Turun dari mobil kami telah disambut security adam air dan security bandara sekitar 10 orang. Dan kami kemudian dikawal menuju pesawat melalui pintu C5.

Saya amat berterima kasih pada pihak adam air atas bantuannya, mengurus keberangkatan sumanto, termasuk pihak bandara yang banyak membantu. Dan saat tiba di Jogja pun tadi, mereka dijemput langsung oleh security adam air dari dalam pesawat. Mobil yang saya siapkan disanapun telah menjemput. Dan saat ini pukul 21.00 malam mereka dalam perjalanan menuju panti Purbalingga.

Ini saya tulis, bukan untuk pamer atau sombong, bisa membawa Sumanto ke Jakarta, untuk live. Saya yakin siapapun kru yang diutus pasti bisa membawanya. Tapi proses yang kami lalui untuk membawanya bagi saya tak ternilai harganya. Ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa.

Namun ternyata ada pihak yang tidak memiliki etika, dan menganggap dirinya adalah bos dari kru kupas tuntas tv7, sehingga dengan seenak dengkulnya, senin subuh tadi dia menjemput Sumanto dan H Supono ke Hotel, dan membawanya ke studio SCTV, untuk live di liputan 6 pagi. Di acara baru yang dipandu Bayu.

Saya gak butuh sanjungan, tapi saya yang membawa Sumanto ke Jakarta, apa iya para petinggi di News SCTV, hingga penanggung jawab acara itu, tak beretika sopan santun? Selama di Jakarta, Sumanto adalah tanggung Jawab tim Kupas Tuntas TV7. Dan SCTV tidak menganggap hal itu, dan tanpa malu, tanpa pemberitahuan kepada kami membawa sumanto untuk live di studio mereka.

HEBAT, LUAR BIASA CULASNYA mereka. Dan saat kami meminta klarifikasi, sang pemred sedang di eropa, dan orang yang ditunjuk untuk bertanggung jawab hanya berkata “itukan biasa, apalagi kan udah live di kupas tuntas semalam”

BIASA??? Ternyata seperti itu budaya sebuah divisi NEWS SCTV??? Andai setelah live kupas tuntas selesai, Sumanto tak lagi menjadi tanggung jawab saya, SCTV mau mengundang dia live 24 jam pun silahkan, tapi dengan enaknya dia jemput, live, diantar kembali ke hotel. Apa mereka dari liputan 6 SCTV itu adalah dewa atau tuhan yang bisa berbuat sesuka hati. Persaingan boleh bung, tapi dengan cara yang cerdas, bukan cara culas mengambil narasumber orang lain, tanpa ada ijin sebelumnya.

Analogikan : dirumah anda ada tamu yang anda jemput untuk menginap, tapi saat anda tidur malam harinya, tamu itu saya bawa diam-diam? Apakah saya beretika??? Yah itulah NEWS SCTV. Yang sampai detik ini tidak berani memenuhi undangan kami untuk hadir di News Room TV 7, guna memberikan penjelasan, akan hal itu.

Dari hal ini saya yakin, kru SCTV memble, untuk mendatangkan langsung sumanto saja tak mampu, dan harus berbuat curang, culas dan menjijikkan.

Saya mengaku salah tak menjaga 24 jam di hotel, sehingga mereka dengan mudah datang. Dan dengan mudahnya kru SCTV menggunakan keluguan H Supono, sehingga bisa dibawa ke studio mereka. Hebat betul kru SCTV meyakinkan H Supono bahwa SCTV telah kordinasi dengan kami di Kupas Tuntas.

Wartawan infotainment saja menemui saya secara baik-baik minta waktu untuk bisa wawancara dengan sumanto tadi di parkiran bandara.

Saya tau SCTV sangat kaya, sehingga berapun biaya yang telah kami keluarkan untuk membawa Sumanto ke Jakarta, pasti mereka bisa keluarkan juga, bahkan mungkin lebih mewah, membawa Sumanto dengan Garuda, menginap di hotel bintang 5. Tapi bukan itu masalahnya. Mereka ternyata tak beretika. Dan apa NEWS SCTV bisa membayar semua proses yang kami lalui itu? Apa yang yang saya lakukan selama 4 hari sebagai proses menjemput Sumanto ke Jakarta, tak akan bisa dibayar oleh SCTV. Bahkan dengan ribuan maaf, atau miliaran rupiah.

Maju boleh bung, tapi dengan kaki sendiri. Kalau mau dengan kaki orang lain, yah potong aja kaki kalian.

MUHAMMAD ASRI RASMA
ASS. PROD. KUPAS TUNTAS TV 7

Comments

Popular posts from this blog

Antara Indonesian Idol dan ST 12

Kalo tidak salah, tahun 2008 ini merupakan tahun kelima pelaksanaan Indonesian Idol, yang ditayangkan di RCTI. Namun meski sudah lima kali, namun baru kali kelima ini saya tertarik untuk menyaksikannya. Alasannya mungkin karena ST 12, tapi mungkin juga bukan.

Tahun lalu, saya pernah mendengar dari Hp ponakan ada sebuah lagu, yang mirip dengan gaya lagu Peterpan, saya bahkan mengcopy lagu tersebut, yang ternyata milik group band yang juga berasal dari Bandung, ST 12. Lalu beberapa bulan belakangan, di program Selamat Pagi Trans7 yang saya produseri saat ini, lagu tersebut menjadi momok bagi Bima, seorang anggota tim kreative saya.

Saya dan beberapa teman, seperti Thomas, VJ tim Selamat Pagi, sering menggoda Bima, dengan memutar lagu tersebut, di Komputer saya. Belum lagi Susan, PA Selamat Pagi yang juga menggoda Bima dengan memutar lagu ST 12 menggunakan HP. Bahkan maret lalu, saat kami taping di Makassar, saya dan Susan tak hentinya menggoda Bima dengan lagu ST 12.

Awal april ini, perhel…

Haruskah Ku Melawan Dunia?

Bagaikan lirik sebuah lagu...
Kita adalah hati yang tertindas. Kitalah langkah yang berhenti berjalan. Kitalah mimpi yang tak terwujudkan....

Adalah kisah yang pernah terjadi diantara kita. Berawal dari belasan tahun lalu, kemudian redup kemudian mucul kembali, kemudian redup, muncul lagi, dan terakhir... terang tidak, redup tidak, mati pun tidak. Walau bisa jadi ini hanya terjadi di duniaku, tidak pada duniamu.

Apa yang aku telah lakukan belakangan, bagimu telah cukup bahkan lebih untuk menebus dosa-dosaku padamu dimasa lalu. Namun tetap saja itu tidak akan cukup mengembalikan semua pada posisi dimana dulu kita adalah yang paling segalanya. Sempat memang ada harap. Harap yang kusimpan cukup lama, namun tak pernah juga aku tawarkan, karena aku tau sekarang semua telah berubah dan berbeda.

Apakah layak orang yang pernah pergi, justru menunggu kembali? Sementara yang seharusnya dia tunggu tak lagi berjalan lurus mengarah padanya. Ia yang sangat ingin ditunggu olehku adalah hal yang tak …

Shalawat Tarhim Pengingat Masa Kecil

Tau Shalawat Tarhim?

Shalawat yang biasanya diperdengarkan sebelum adzan. Di Bandung ada beberapa masjid yang saya pernah dengar masih memperdengarkan shalawat ini, hingga sekarang.

Saat berkunjung ke kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Padang, Medan, Palembang di Sumatera. Lalu Pontianak, Balikpapan di Kalimantan, Jogja dan kota-kota lainnya di Jawa, kota-kota lain di Indonesia Timur seperti Ternate, dan pastinya di kota-kota yang ada di Sulawasi Selatan, tak terkecuali Pinrang, masih banyak yang memutar shalawat ini sebelum memasuki waktu shalat.

Sekitar 10 kilometer arah utara kota Pinrang, adalah Leppangeng, sebuah desa yang tenang dan ramah, desa dimana saya berasal. Di desa inilah dulu semasa kecil kuping saya akrab dengan shalawat ini. Dari sebuah mushollah yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah. Mushollah Nurul Yaqin. Saat ini telah berubah menjadi masjid, setelah diperluas dan ditingkat menjadi dua lantai.

Masa itu, sepulang sekolah setelah dhuhur dan makan siang, ka…

Its Me... Saat Liburan ke China Januari 2017

Its Me... Pada Hari Raya Idul Fitri 2017