Skip to main content

Papua oh Papua

Tanggal 9 maret lalu aku berangkat ke papua, dan kembali lagi ke jakarta tanggal 26. Selama 18 hari disana, banyak pengalaman baru yang aku dapat.

Ini sedikit kisahnya :

Aku nyampe sorong tanggal 10 maret, hari jum'at pagi, jam 8.30 WIT, aku terbang dari jakarta 23.55 WIB. Disana kondisi normal banget. Pas besoknya aku liputan ke Manokwari, sepanjang yang aku liat kotanya juga kondusif. Yang pasti Manokwari itu kotanya gak terlalu besar, dan sepi banget, siang hari aja, mobil yang lalu lalang di jalan sepi. Tapi dia sekarang jadi ibukota provinsi Irjabar. Nah Selama aku disorong ampe tgl 14 maret, kondisi kota ini gak pernah bergejolak, aman aman aja. kecuali pemudanya doyan banget mabok kalo malam di sepanjang tembok pantai di jalan ahmad yani hehehehe...

Di Timika, selama dua hari pasca penyerangan ke hotel seraton, juga dah kondusif. aku di Timika tgl 14-17, dan sebelum balik jakarta mampir lagi dua hari disana, aman-aman aja.

Yang sempat mencekam itu 3 hari pertama aku dijayapura. Itu pas H+1 ampe H+4 pasca bentrokan berdarah di abepura. Tapi yang mencekam itu cuma seputar kotaraja dan abepura. Dua kecamatan ini tetanggaan, jaraknya dari Jayapura sekitar 30-45 menit dengan mobil kecepatan 60 km perjam. Mungkin 30 kiloan, jadi jauh karena jalannya belok-belok naik turun gunung.

Tanggal 17 maret, kru dari 3 Tv kan digebukin ama brimob, alat-alat mereka dihancurin. Tapi kapolda papua dah ngeganti semuanya, lumayan habis 300 jutaan.

Setelah tanggal 19 maret ampe aku ninggalin jayapura tgl 25, kondisi dua kota itu dah aman banget. Jalan yang sempat ditutup brimob dah dibuka. Kita-kita dah berani terang-terangan ambil gambar di kotaraja dan abepura.

Yang masih terasa mencekam saat aku tinggalin tuh paling asrama mahasiswa uncen yang penghuninya belum berani balik.

Info terakhir yang aku dapat setelah aku tiba dijakarta, kondisi dah membaik juga, kuliah di uncen dah mulai lagi tanggal 27 maret lalu. besoknya juga ada upacara wisuda gitu.

Papua pada umumnya menarik banget untuk dijadiin tempat tujuan wisata, cuma masalahnya apa-apa mahal disana. Tapi yang paling mahal di Jayapura. Kau makan bertiga aja cuma pake ikan bisa ampe 150ribu. Perbandingannya ginilah, aku merasa makan direntoran hotel Yasmin yang bintang tiga, lebih murah dari makanan diwarung tenda diluar. Yang murah itu yah makanan khas makassar, ama yang warung padang.

Dari empat kota yang aku datangi itu, cuma Jayapura yang punya plaza, itu juga kecil, kayak premier plaza di bandung lah gedenya.Tapi malam minggu di Jayapura gak kalah rame ama Bandung. Sisanya paling dept. store gitu.

Kalo nyari fastfood, cuma ada KFC aja, itu juga aku cuma ketemu di Sorong, Timika, n Jayapura. Kalo disorong, aku saranin makan seafood yang banyak, karena murah, yang bikin di Jayapura mahal karena dikirim dari Sorong.

Yang menarik di Timika, ada warung coto makassar satu mangkoknya 12 ribu, mahal yah? lebih mahal dari coto di makassar. Tapi disini ketupatnya gratis, mau makan berapa aja. Paling cocok lah buat anak kos hehehe... Nah pas aku mampir makan disana, ada bapak-bapak yang datang makan ama istri ma anaknya, mesen cuma 3 mangkok, tapi ngabisin ketupat lebih dari 20 hahahaha...

Dari empat kota yang aku datangi itu, Jayapura yang paling bangus, apalagi kalo malam. Jadi kotanya berpusat didaratan rendah tepi pantai yang dikelilingin gunung. Pantainya bagus, dan dari pantai itu, kapal-kapal didermaga sebelah kelihatan dengan jelas, karena jaraknya paling cuma 1 kiloan. Trus kalo ada kapal penumpang pelni yang rapat dipelabuhan, kita bisa liat langsung dari jarak dekat, karena antara dermaga ama jalan cuma dipisah ama pagar tembok 3 meteran.

Di papua itu, khususnya di Timika, timung banyak banget. Timung itu tempat pijat, yang bisa plus hehehe... Trus maaf neh, PSK disana rata-rata dari Manado bo hehehehe... Tapi aku cuma nanya-nanya aja, gak ngejajal loh hahahahaha...

Yang keren itu, dari satu kota ke kota besar lainnya di papua, harus pake pesawat. Jadi kalo ketemu babi didalam pesawat jangan heran. Merpati ama trigana air yang paling banyak melayani rute antar kota disana. Kalo Garuda ama Batavia, hanya transit-transit aja. Tujuan utamanya adalah Jakarta-Jayapura-Jakarta.

Nah kalo mau landing di Sorong dan Maokwari, pemandangan laut dibawah keren banget. Kalo bali kan, yang bagus cuma karena sebagian landasan di laut, nah kalo dikota itu, bandaranya dipinggir laut. Bandara di Sorong masih baru, dan bandara yang lamanya ada dipulau kecil (kelihatan kok sebelum kita landing), jadi dulu kalo ke sorong, kita landing di bandara itu, trus pake speed boad menuju pulau utama yang ada kota sorong (dikepala burung). Pulau itu kecil banget. dia agak manjang, dan lebarnya mungkin cuam 3 kali lebar lapangan bola. Panjang pulaunya ya sama panjang ama panjang landasan plus apron.

Yang paling nyebelin pas mau masuk bandara di timika, sepanjang yang bisa diliat dibawah adalah hutan yang rusak oleh limbah freeport. Yang aku anggap freeport ngebantu yah bandaranya. Bandara itu dibangun ama freeport, dan dipinjamkan untuk penerbangan sipil, dibuka jam 6 pagi, tutup jam 5 sore. Selain itu cuma pesawat freeport yang boleh tak off atau landing. Cuma garuda ma merpati yang mampir di Timika, yang ke Jayapura atau yang ke jakarta. Dan disini gak ada fasilitas isi aftur, jadi pesawat harus transit biak, makassar atau bali untuk isi bahan bakar lagi.

Segitu kali yah ceritanya.

MAR

Comments

Popular posts from this blog

Antara Indonesian Idol dan ST 12

Kalo tidak salah, tahun 2008 ini merupakan tahun kelima pelaksanaan Indonesian Idol, yang ditayangkan di RCTI. Namun meski sudah lima kali, namun baru kali kelima ini saya tertarik untuk menyaksikannya. Alasannya mungkin karena ST 12, tapi mungkin juga bukan.

Tahun lalu, saya pernah mendengar dari Hp ponakan ada sebuah lagu, yang mirip dengan gaya lagu Peterpan, saya bahkan mengcopy lagu tersebut, yang ternyata milik group band yang juga berasal dari Bandung, ST 12. Lalu beberapa bulan belakangan, di program Selamat Pagi Trans7 yang saya produseri saat ini, lagu tersebut menjadi momok bagi Bima, seorang anggota tim kreative saya.

Saya dan beberapa teman, seperti Thomas, VJ tim Selamat Pagi, sering menggoda Bima, dengan memutar lagu tersebut, di Komputer saya. Belum lagi Susan, PA Selamat Pagi yang juga menggoda Bima dengan memutar lagu ST 12 menggunakan HP. Bahkan maret lalu, saat kami taping di Makassar, saya dan Susan tak hentinya menggoda Bima dengan lagu ST 12.

Awal april ini, perhel…

Haruskah Ku Melawan Dunia?

Bagaikan lirik sebuah lagu...
Kita adalah hati yang tertindas. Kitalah langkah yang berhenti berjalan. Kitalah mimpi yang tak terwujudkan....

Adalah kisah yang pernah terjadi diantara kita. Berawal dari belasan tahun lalu, kemudian redup kemudian mucul kembali, kemudian redup, muncul lagi, dan terakhir... terang tidak, redup tidak, mati pun tidak. Walau bisa jadi ini hanya terjadi di duniaku, tidak pada duniamu.

Apa yang aku telah lakukan belakangan, bagimu telah cukup bahkan lebih untuk menebus dosa-dosaku padamu dimasa lalu. Namun tetap saja itu tidak akan cukup mengembalikan semua pada posisi dimana dulu kita adalah yang paling segalanya. Sempat memang ada harap. Harap yang kusimpan cukup lama, namun tak pernah juga aku tawarkan, karena aku tau sekarang semua telah berubah dan berbeda.

Apakah layak orang yang pernah pergi, justru menunggu kembali? Sementara yang seharusnya dia tunggu tak lagi berjalan lurus mengarah padanya. Ia yang sangat ingin ditunggu olehku adalah hal yang tak …

Shalawat Tarhim Pengingat Masa Kecil

Tau Shalawat Tarhim?

Shalawat yang biasanya diperdengarkan sebelum adzan. Di Bandung ada beberapa masjid yang saya pernah dengar masih memperdengarkan shalawat ini, hingga sekarang.

Saat berkunjung ke kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Padang, Medan, Palembang di Sumatera. Lalu Pontianak, Balikpapan di Kalimantan, Jogja dan kota-kota lainnya di Jawa, kota-kota lain di Indonesia Timur seperti Ternate, dan pastinya di kota-kota yang ada di Sulawasi Selatan, tak terkecuali Pinrang, masih banyak yang memutar shalawat ini sebelum memasuki waktu shalat.

Sekitar 10 kilometer arah utara kota Pinrang, adalah Leppangeng, sebuah desa yang tenang dan ramah, desa dimana saya berasal. Di desa inilah dulu semasa kecil kuping saya akrab dengan shalawat ini. Dari sebuah mushollah yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah. Mushollah Nurul Yaqin. Saat ini telah berubah menjadi masjid, setelah diperluas dan ditingkat menjadi dua lantai.

Masa itu, sepulang sekolah setelah dhuhur dan makan siang, ka…

Its Me... Saat Liburan ke China Januari 2017

Its Me... Pada Hari Raya Idul Fitri 2017