Skip to main content

Bibi Delivery (bidep)

Aku masuk Universitas Islam Bandung (Unisba), tahun 1999. Kala itu, karena mau jadi wartawan, aku memilih Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom). Saat-saat menjalani waktu demi waktu sebagai mahasiswa di kampus Taman Sari Nomor Satu itu, banyak orang yang kukenal. Jajaran Senat Universitas, Fakultas, hingga Senat Mahasiswa. Satpam kampus, Cleaning Service kampus, tukang parkir, pedagang makanan di depan kampus, hingga BIBI DELIVERY ini.

Mengapa ia dijuluki Bibi Delivery? Ya, karena dia bekerja sebagai pengantar. Dia pengantar makanan.

Bagi orang yang pernah ke Unisba, jika masuk melalui gerbang utama, dibagian kanan akan menemukan ruang aquarium, yang mana di dalamnya terdapat ruang tunggu dengan kursi-kursi panjang. Selain itu, dibagian dalam dan di atas aqurium itu lah berkantor para pengurus Senat Mahasiswa atau sema (sekarang Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM) dari setiap fakultas. Ruang Sema/BEM Fikom sendiri berada di atas, diujung koridor, sebelah kanan.

Digerbang kampus, atau tepatnya sepanjang pagar kampus dari bawah hingga ke atas, berjejer banyak sekali pedagang makan. Segala rupa makanan ada dijual disini. Nasi goreng, soto, mie ayam, bubur dan lain lain. Sebagian besar mahasiswa yang mau makan langsung datang ke jejeran tenda pedagang itu. Tapi bagi mereka yang lagi asyik duduk duduk dan atau diskusi di aquarium, atau berada di ruang sema/bem fakultas, mereka tidak kesana. Bibi Delivery inilah yang menghubungkan mereka.

Tahun 2001-2002 saat aku menjadi ketua sema fikom, aku juga sering menggunakan jasa si bibi ini. Tak jarang aku sempatkan ngobrol tentang apapun dengan dia. Kadang bahkan mengenai masalah yang aku lagi hadapi dalam kepengurusan. Dia juga tau perkembangan setiap sema/bem tiap fakultas yang ada. Termasuk ketua-ketua sema/bem itu dari waktu ke waktu. Dia tau bahwa sebelum aku, ada Anton dan Mario yang menjadi ketua sema fikom. Dan saat aku tak menjadi ketua lagi, dia tau siapa itu habib, siapa itu erik. Dan tentunya dia juga pasti tau siapa itu Iksan.

Terkadang saat rapat sema, bibi inilah yang kami mintai untuk membawakan satu atau dua krat teh botol. Saat jam-jam sela antar kelas kuliah, ruang sema tak hanya diisi oleh pengurus, tetapi juga oleh teman-teman mahasiswa non pengurus. Saat-saat itulah apalagi jika waktunya makan siang, sibibi ini sangat sibuk. Hebatnya, dia tidak mencatat pesanan begitu banyak orang, dia hanya mengingatnya. Walau kadang sekali-kali dia salah, seperti aku pesan batagor kuah, yang dia bawa batagor tak berkuah, tetap saja gak masalah.

Penghasilannya sehari tak begitu besar. Aku pernah bertanya padanya akan hal itu. Dan kata sibibi, "cep asri, bibi lakuin ini karena gak punya kerja padahal butuh uang buat hidup. Ini juga kadang cuma buat sehari habis". Yah dia memang gak ambil untung banyak. Dari satu porsi makanan yang kita pesan kadang dia ambil untung 500 rupiah per porsi. tetapi lebih banyak pedagang yang melarang dia menambah harga makanan, jadi dia akan mendapat langsung jatah dari pedagang bersangkutan setiap harinya. Tergantung berapa porsi yang dia antarkan. Jadi mau makan langsung kebawah (ruang sema fikom diatas) atau pesen lewat bidep harga sama saja.

Beberapa waktu lalu, mungkin dua tahun lalu, bidep ini hamil, dan hingga kandungannya semakin membesar dia tetap melakukan tugas delivery itu. Naik turun tangga membawa nampan yang berisi makanan. "Buat ditabung cep asri, buat bayar lahiran nanti" jawabnya, kala waktu aku bertanya mengapa dia masih kerja padahal kandungannya dah besar. Kemudian setelah lama berselang, aku bertemu lagi dan ternyata dia sudah melahirkan. Aku memang udah jarang ketemu dengan bidep sejak aku keterima kerja di jakarta pertengahan 2003 lalu. Jadi paling-paling ketemu dia pas aku kebandung, dan main ke ruang sema/bem fikom.

Terakhir aku ketemu bidep ini, beberapa waktu lalu, saat aku mampir ke ruang sema/bem fikom. Kalo gak salah Oktober 2005 lalu. Waktu aku jadi pembicara di acara one day with jurnalistik, yang diadain Keluarga Mahasiswa Jurnalistik, Fikom Unisba. Waktu itu, aku masih ingat mesan dua teh botol.

Tiba-tiba hari ini, tepatnya siang tadi jam 12.42, (sekarang udah jam 23 malam), aku dapat sms dari Udhe, seorang teman perjuangan di fikom dulu, bertuliskan "Inalillahiwainailaihirojiun!rekan2 sejawat and senasib!bi dep, bibi delivery meninggal dunia hari ini di garut!tolong sebarkan sms ini pd yg laen.." Sontak aku kaget, nyaris gak percaya. Sibibi yang baik hati itu sudah pergi menghadap-Nya.

Sampai saat nulis ini semua, mata masih berkaca-kaca menahan tangis haru mengingat si bibi delivery ini. Dia orang yang amat berjasa bagi begitu banyak mahasiswa. Bagi aku jasanya mengantar makanan itu amat luar biasa, setara dengan pak pos yang ada dipelosok negeri, nagntar surat ke lamat yang terpisah antar bkit, dengan sepeda tua. Bedanya pak pos digaji, bidep dapat komisi.

Kembali terbayang, wajah penuh senyum seorang wanita menawarkan mau makan apa, dari depan pintu ruang sema. Seorang wanita berbadan kurus, tinggi gak lebih dari 150 cm, dengan celemek warna kuning, dan nampan ditangan kanan, dan kantong plastik berisi soft drink ditangan kirinya. Kadang ia memakai daster, kadang memakai kaos dan celana kain. Yah, dialah bibi delivery alias bidep, yang hari ini telah pergi untuk selamanya. Dialah bibi yang sering mengantarkanku makanan saat-saat menjadi ketua sema dulu. Dialah yang saat hari meninggalnya tiba, baru aku ketahui namanya adalah Ibu Onyas.

"cep asri, mau makan apa?..."

Kalimat tanya singkat yang sering aku dengar darinya, dan kembali terngiang ditelingaku saat ini. Ibu Onyas a.k.a Bidep, akan masuk dalam daftar orang berkesan dalam hidupku.

Semoga, dia kembali kepadanya dengan senyuman kebahagiaan. Dan aku hanya bisa berharap dia mendapat tempat yang nyaman di sisi-Nya. Amin.

Selamat jalan bidep...

Comments

Popular posts from this blog

Antara Indonesian Idol dan ST 12

Kalo tidak salah, tahun 2008 ini merupakan tahun kelima pelaksanaan Indonesian Idol, yang ditayangkan di RCTI. Namun meski sudah lima kali, namun baru kali kelima ini saya tertarik untuk menyaksikannya. Alasannya mungkin karena ST 12, tapi mungkin juga bukan.

Tahun lalu, saya pernah mendengar dari Hp ponakan ada sebuah lagu, yang mirip dengan gaya lagu Peterpan, saya bahkan mengcopy lagu tersebut, yang ternyata milik group band yang juga berasal dari Bandung, ST 12. Lalu beberapa bulan belakangan, di program Selamat Pagi Trans7 yang saya produseri saat ini, lagu tersebut menjadi momok bagi Bima, seorang anggota tim kreative saya.

Saya dan beberapa teman, seperti Thomas, VJ tim Selamat Pagi, sering menggoda Bima, dengan memutar lagu tersebut, di Komputer saya. Belum lagi Susan, PA Selamat Pagi yang juga menggoda Bima dengan memutar lagu ST 12 menggunakan HP. Bahkan maret lalu, saat kami taping di Makassar, saya dan Susan tak hentinya menggoda Bima dengan lagu ST 12.

Awal april ini, perhel…

Haruskah Ku Melawan Dunia?

Bagaikan lirik sebuah lagu...
Kita adalah hati yang tertindas. Kitalah langkah yang berhenti berjalan. Kitalah mimpi yang tak terwujudkan....

Adalah kisah yang pernah terjadi diantara kita. Berawal dari belasan tahun lalu, kemudian redup kemudian mucul kembali, kemudian redup, muncul lagi, dan terakhir... terang tidak, redup tidak, mati pun tidak. Walau bisa jadi ini hanya terjadi di duniaku, tidak pada duniamu.

Apa yang aku telah lakukan belakangan, bagimu telah cukup bahkan lebih untuk menebus dosa-dosaku padamu dimasa lalu. Namun tetap saja itu tidak akan cukup mengembalikan semua pada posisi dimana dulu kita adalah yang paling segalanya. Sempat memang ada harap. Harap yang kusimpan cukup lama, namun tak pernah juga aku tawarkan, karena aku tau sekarang semua telah berubah dan berbeda.

Apakah layak orang yang pernah pergi, justru menunggu kembali? Sementara yang seharusnya dia tunggu tak lagi berjalan lurus mengarah padanya. Ia yang sangat ingin ditunggu olehku adalah hal yang tak …

Shalawat Tarhim Pengingat Masa Kecil

Tau Shalawat Tarhim?

Shalawat yang biasanya diperdengarkan sebelum adzan. Di Bandung ada beberapa masjid yang saya pernah dengar masih memperdengarkan shalawat ini, hingga sekarang.

Saat berkunjung ke kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Padang, Medan, Palembang di Sumatera. Lalu Pontianak, Balikpapan di Kalimantan, Jogja dan kota-kota lainnya di Jawa, kota-kota lain di Indonesia Timur seperti Ternate, dan pastinya di kota-kota yang ada di Sulawasi Selatan, tak terkecuali Pinrang, masih banyak yang memutar shalawat ini sebelum memasuki waktu shalat.

Sekitar 10 kilometer arah utara kota Pinrang, adalah Leppangeng, sebuah desa yang tenang dan ramah, desa dimana saya berasal. Di desa inilah dulu semasa kecil kuping saya akrab dengan shalawat ini. Dari sebuah mushollah yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah. Mushollah Nurul Yaqin. Saat ini telah berubah menjadi masjid, setelah diperluas dan ditingkat menjadi dua lantai.

Masa itu, sepulang sekolah setelah dhuhur dan makan siang, ka…

Its Me... Saat Liburan ke China Januari 2017

Its Me... Pada Hari Raya Idul Fitri 2017